Melatih Anak Mandiri Cara Nabi
Berbicara tentang kemandirian anak tentu menjadi topik yang sangat menarik untuk diperbincangkan, tentunya anak yang memilki sifat mandiri menjadi dambaan setiap orang tua, setidaknya hal ini meringankan tugas orang tua di rumah. Namun sifat ini bukan hanya untuk diajarkan oleh orang tua kepada anaknya namun harus dilatih sejak dini, ingat kebiasaan sewaktu kecil akan menjadi karakter yang akan dibawanya kelak saat ia dewasa.
Lalu bagaimana membiasakan anak agar mandiri itu ?
Saya akan mengawai dari kisah manusia agung yang mesti kita contoh dari berbagai aspek. Berikut sepenggal kisahnya
“Ketika anak-anak pada umunya sedang asyik-asyiknya menikmati hamparan kasih sayang orang tua, Muhammad justru berjuang menentang kerasnya kehidupan. Muhammad bukan tipe anak yang pantang menyerah. Atas segala rintangan yang menghadang, tak pernah ia berjalan menghindar. Sebaliknya, ia songsong masalah ini dengan solusi jernih. Muhammad adalah karakter manusia yang memilki semangat pertahanan hidup yang sangat tinggi.
Dalam keadaan serba kekurangan, naluri pertahanan hidup tumbuh dengan subur dalam diri Muhammad. Naluri ini yang menguatkan hatinya untuk melepaskan masa indah dunia kanak-kanak dengan menjadi seorang penggembali kambing. Bersama putra Halima, ibu susuannya, ia menggembalakan kambing kepunyaan penduduk di kota Mekkah. Meskipun ia memiliki seorang kakek yang notabennya adalah seorang ketua suku yang memegang kekuasaan di Mekkah, namun semua itu tak juga membuatnya malu untuk melakukan pekerjaan itu.
Dua belas tahun usia Muhammad, ketika pertama kali ia mendapat pengalaman istimewa dalam pertualangan. Saat itu, ia mengikuti pamannya pergi berdagang ke Syiria. Setelah itu, satu persatu pengalaman demi pengalaman hinggap dalam kehidupan Muhammad. Dengan semua pengalaman itu, Muhammad tumbuh menjadi pribadi yang mandiri. Pribadi yang tak mudah menyerah. Pribadi yang kuat yang selalu siap mengambil keputusan pada saat-saat sulit.
Terbukti, ketika sang paman bangkrut, Muhammad tidak lantas larut dalam kepedihan. Sebaliknya, dengan sigap ia segera mengambil keputusan. Mencari alternatif atas kebangkrutan sang paman hinggga ia menemukan solusi untuk melakukan perdagangan keliling sendiri. Berbekal pengalaman dan keterampilannya dalam berdagang, ia pun mulai menawarkan jasa menjualkan barang dagangan para sudagar kaya mekkah.”
Lalu bagaimana dengan orang tua sekarang, dengan dalih kasihan anaknya tak pernah dilatih untuk mendiri, semua keperluaan anaknya sudah dicukupinya, baginya anak cukup sekolah yang tinggi tak perlu mengerjakan apapun cukup dengan sekolah yang tinggi lalu bekerja di perusahaan atau instansi pemerintah.
Muhammad kecil sudah dilatih untuk menggembalakan kambing, dan pada usia dua belas tahun ia sudah bertualang keliling negara untuk berdagang. Sementara saat ini usia segitu anak-anak sekarang belum bisa apa-apa. Memang pendidikan itu penting namun melatih kemandirian itu jauh lebih penting.
Saya teringat dengan apa yang pernah saya alami, saat usia SD ibu saya tak pernah mengizinkan saya untuk berjualan, padahal ibu saya sendiri adalah seorang pedagang, ia hanya ingin saya fokus dengan sekolah, hingga sampai saya kuliah yang saya dapatkan hanya teori-teori saja meskipun pendidikan saya jurusan ilmu marketing namun yang saya dapatkan hanya teorinya saja, akhirnya saya tak pernah merasakan bagaimana menjadi seorang pedagang.
Dan mungkin ini yang dialami oleh anak-anak sekarang, kita tahu di tahun 2015 Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat setidaknya penggangguran di Indonesia berjumlah 7,56 juta orang. Dan bukan hal yang tidak mungkin jumlahnya akan terus bertambah.
Bercermin dari kisah Muhammad SAW kecil yang telah dilatih kemandiriannya hingga menjadi sosok seorang yang tahan atas segala kondisi.
Selain itu satu pelajaran penting yang dapat kita ambil adalah bahwa Muhammad kecil sudah menjadi seorang penggembala, ini artinya kita bisa melatih anak-anak dari kita dari kecil untuk memelihara binatang tentunya binatang yang tidak berbahaya, ini akan melatih mereka untuk bersikap tanggung jawab dan perhatian.
Kalau bukan dari sejak dini kapan kita mau melatih mereka, merasa kasihan bukan berarti kita tidak pernah membuatnya terlatih, Justru karena kita sayang merekalah kita melatihnya sejak dini, bukankah Anda tidak ingin menambah jumlah penggangguran negeri ini kelak, tentu ini bukan impian kita, kita ingin kelak anak-anak kita nantinya menjadi pribadi yang mandiri dan tanggguh atas segala kondisi. Tentunya kita mulai melatih kemandirian anak sejak dini…
Sumber : https://rislif.wordpress.com/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar