Jumat, 17 Juni 2016

Sabtu, 18 Juni 2016

Melatih Anak Mandiri Cara Nabi





Berbicara tentang kemandirian anak tentu menjadi topik yang sangat menarik untuk diperbincangkan, tentunya anak yang memilki sifat mandiri menjadi dambaan setiap orang tua, setidaknya hal ini meringankan tugas orang tua di rumah. Namun sifat ini bukan hanya untuk diajarkan oleh orang tua kepada anaknya namun harus dilatih sejak dini, ingat kebiasaan sewaktu kecil akan menjadi karakter yang akan dibawanya kelak saat ia dewasa.
Lalu bagaimana membiasakan anak agar mandiri itu ?
Saya akan mengawai dari kisah manusia agung yang mesti kita contoh dari berbagai aspek. Berikut sepenggal kisahnya
“Ketika anak-anak pada umunya sedang asyik-asyiknya menikmati hamparan kasih sayang orang tua, Muhammad justru berjuang menentang kerasnya kehidupan. Muhammad bukan tipe anak yang pantang menyerah. Atas segala rintangan yang menghadang, tak pernah ia berjalan menghindar. Sebaliknya, ia songsong masalah ini dengan solusi jernih. Muhammad adalah karakter manusia yang memilki semangat pertahanan hidup yang sangat tinggi.
Dalam keadaan serba kekurangan, naluri pertahanan hidup tumbuh dengan subur dalam diri Muhammad. Naluri ini yang menguatkan hatinya untuk melepaskan masa indah dunia kanak-kanak dengan menjadi seorang penggembali kambing. Bersama putra Halima, ibu susuannya, ia menggembalakan kambing kepunyaan penduduk di kota Mekkah. Meskipun ia memiliki seorang kakek yang notabennya adalah seorang ketua suku yang memegang kekuasaan di Mekkah, namun semua itu tak juga membuatnya malu untuk melakukan pekerjaan itu.
Dua belas tahun usia Muhammad, ketika pertama kali ia mendapat pengalaman istimewa dalam pertualangan. Saat itu, ia mengikuti pamannya pergi berdagang ke Syiria. Setelah itu, satu persatu pengalaman demi pengalaman hinggap dalam kehidupan Muhammad. Dengan semua pengalaman itu, Muhammad tumbuh menjadi pribadi yang mandiri. Pribadi yang tak mudah menyerah. Pribadi yang kuat yang selalu siap mengambil keputusan pada saat-saat sulit.
Terbukti, ketika sang paman bangkrut, Muhammad tidak lantas larut dalam kepedihan. Sebaliknya, dengan sigap ia segera mengambil keputusan. Mencari alternatif atas kebangkrutan sang paman hinggga ia menemukan solusi untuk melakukan perdagangan keliling sendiri. Berbekal pengalaman dan keterampilannya dalam berdagang, ia pun mulai menawarkan jasa menjualkan barang dagangan para sudagar kaya mekkah.”
Lalu bagaimana dengan orang tua sekarang, dengan dalih kasihan anaknya tak pernah dilatih untuk mendiri, semua keperluaan anaknya sudah dicukupinya, baginya anak cukup sekolah yang tinggi tak perlu mengerjakan apapun cukup dengan sekolah yang tinggi lalu bekerja di perusahaan atau instansi pemerintah.
Muhammad kecil sudah dilatih untuk menggembalakan kambing, dan pada usia dua belas tahun ia sudah bertualang keliling negara untuk berdagang. Sementara saat ini usia segitu anak-anak sekarang belum bisa apa-apa. Memang pendidikan itu penting namun melatih kemandirian itu jauh lebih penting.
Saya teringat dengan apa yang pernah saya alami, saat usia SD ibu saya tak pernah mengizinkan saya untuk berjualan, padahal ibu saya sendiri adalah seorang pedagang, ia hanya ingin saya fokus dengan sekolah, hingga sampai saya kuliah yang saya dapatkan hanya teori-teori saja meskipun pendidikan saya jurusan ilmu marketing namun yang saya dapatkan hanya teorinya saja, akhirnya saya tak pernah merasakan bagaimana menjadi seorang pedagang.
Dan mungkin ini yang dialami oleh anak-anak sekarang, kita tahu di tahun 2015 Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat setidaknya penggangguran di Indonesia berjumlah 7,56 juta orang. Dan bukan hal yang tidak mungkin jumlahnya akan terus bertambah.
Bercermin dari kisah Muhammad SAW kecil yang telah dilatih kemandiriannya hingga menjadi sosok seorang yang tahan atas segala kondisi.
Selain itu satu pelajaran penting yang dapat kita ambil adalah bahwa Muhammad kecil sudah menjadi seorang penggembala, ini artinya kita bisa melatih anak-anak dari kita dari kecil untuk memelihara binatang tentunya binatang yang tidak berbahaya, ini akan melatih mereka untuk bersikap tanggung jawab dan perhatian.
Kalau bukan dari sejak dini kapan kita mau melatih mereka, merasa kasihan bukan berarti kita tidak pernah membuatnya terlatih, Justru karena kita sayang merekalah kita melatihnya sejak dini, bukankah Anda tidak  ingin menambah jumlah penggangguran negeri ini kelak, tentu ini bukan impian kita, kita ingin kelak anak-anak kita nantinya menjadi pribadi yang mandiri dan tanggguh atas segala kondisi. Tentunya kita mulai melatih kemandirian anak sejak dini…

Sumber  :  https://rislif.wordpress.com/
Sabtu, 18 Juni 2016

BERCERITA UNTUK ANAK USIA DINI

Oleh  : Kak Jendro

Sebelum bercerita, pendidik harus memahami terlebih dahulu tentang cerita apa yang hendak disampaikannya, tentu saja disesuaikan dengan karakteristik anak-anak usia dini. Agar dapat bercerita dengan tepat, pendidik harus mempertimbangkan materi ceritanya. dan emilihan cerita antara lain ditentukan oleh :
1. Pemilihan Tema dan judul yang tepat Bagaimana cara memilih tema cerita yang tepat berdasarkan usia anak? Seorang pakar psikologi pendidikan bernama Charles Buhler mengatakan bahwa anak hidup dalam alam khayal. Anak-anak menyukai hal-hal yang fantastis, aneh, yang membuat imajinasinya “menari-nari”. Bagi anak-anak, hal-hal yang menarik, berbeda pada setiap tingkat usia, misalnya; a. sampai ada usia 4 tahun, anak menyukai dongeng fabel dan horor, seperti: Si wortel, Tomat yang Hebat, Anak ayam yang Manja, kambing Gunung dan Kambing Gibas, anak nakal tersesat di hutan rimba, cerita nenek sihir, orang jahat, raksasa yang menyeramkan dan sebagainya. b. Pada usia 4-8 tahun, anak-anak menyukai dongeng jenaka, tokoh pahlawan/hero dan kisah tentang kecerdikan, seperti; Perjalanan ke planet Biru, Robot pintar, Anak yang rakus dan sebagainya c. Pada usia 8-12 tahun, anak-anak menyukai dongeng petualangan fantastis rasional (sage), seperti: Persahabatan si Pintar dan si Pikun, Karni Juara menyanyi dan sebagainya
2. Waktu Penyajian Dengan mempertimbangkan daya pikir, kemampuan bahasa, rentang konsentrasi dan daya tangkap anak, maka para ahli dongeng menyimpulkan sebagai berikut; a. Sampai usia 4 tahun, waktu cerita hingga 7 menit b. Usia 4-8 tahun, waktu cerita hingga 10 -15 menit c. Usia 8-12 tahun, waktu cerita hingga 25 menit Namun tidak menutup kemungkinan waktu bercerita menjadi lebih panjang, apabila tingkat konsentrasi dan daya tangkap anak dirangsang oleh penampilan pencerita yang sangat baik, atraktif, komunikatif dan humoris.
3. Suasana (situasi dan kondisi) Suasana disesuaikan dengan acara/peristiwa yang sedang atau akan berlangsung, seperti acara kegiatan keagamaan, hari besar nasional, ulang tahun, pisah sambut anak didik, peluncuran produk, pengenalan profesi, program sosial dan lain-lain, akan berbeda jenis dan materi ceritanya. Pendidik dituntut untuk memperkaya diri dengan materi cerita yang disesuaikan dengan suasana. Jadi selaras materi cerita dengan acara yang diselenggarakan, bukan satu atau beberapa cerita untuk segala suasana.
PRAKTEK BERCERITA
1. Teknik Bercerita: Pendidik perlu mengasah keterampilannya dalam bercerita, baik dalam olah vokal, olah gerak, bahasa dan komunikasi serta ekspresi. Seorang pencerita harus pandai-pandai mengembangkan berbagai unsur penyajian cerita sehingga terjadi harmoni yang tepat. Secara garis besar unsur-unsur penyajian cerita yang harus dikombinasikan secara proporsional adalah sebagai berikut : (1) Narasi (2) Dialog (3) Ekspresi (terutama mimik muka) (4) Visualisasi gerak/Peragaan (acting) (5) Ilustrasi suara, baik suara lazim maupun suara tak lazim (6) Media/alat peraga (bila ada) (7) Teknis ilustrasi lainnya, misalnya lagu, permainan, musik, dan sebagainya.
2. Mengkondisikan anak : Tertib merupakan prasyarat tercapainya tujuan bercerita. Suasana tertib harus diciptakan sebelum dan selama anak-anak mendengarkan cerita. Diantaranya dengan cara-cara sebagai berikut:
a. Aneka tepuk: seperti tepuk satu-dua, tepuk tenang, anak sholeh dan lain-lain. Contoh; Jika aku (tepuk 3x) sudah duduk (tepuk 3x) maka aku (tepuk 3x) harus tenang (tepuk 3x) sst…sst..sst…
b. Simulasi kunci mulut: Pendidik mengajak anak-anak memasukkan tangannya ke dalam saku, kemudian seolah-olah mengambil kunci dari saku, kemudian mengunci mulut dengan kunci tersebut, lalu kunci di masukkan kembali ke dalam saku
c. “Lomba duduk tenang”, Kalimat ini diucapkan sebelum cerita disampaikan, ataupun selama berlangsungnya cerita. Teknik ini cukup efektif untuk menenangkan anak, Apabila cara pengucapannya dengan bersungguh-sungguh, maka anak-anak pun akan melakukannya dengan sungguh-sungguh pula.
d. Tata tertib cerita, sebelum bercerita pendidik menyampaikan aturan selama mendengarkan cerita, misalnya; tidak boleh berjalan-jalan, tidak boleh menebak/komentari cerita, tidak boleh mengobrol dan mengganggu kawannya dengan berteriak dan memukul meja. Hal ini dilakukan untuk mencegah anak-anak agar tidak melakukan aktifitas yang mengganggu jalannya cerita
e. Ikrar, Pendidik mengajak anak-anak untuk mengikrarkan janji selama mendengar cerita, contoh:
Ikrar..!
Selama cerita, Kami berjanji
1. Tidak akan berjalan-jalan
2. Tidak akan menebak dan komntari cerita
3. Tidak akan mengobrol
4. Tidak akan membuat gaduh
f. Siapkan hadiah!, secara umum anak-anak menyukai hadiah. Hadiah akan mendorong untuk anak-anak untuk mendapatkannya, meskipun harus menahan diri untuk tidak bermain dan berbicara. Bisa saja kita memberikan hadiah imajinatif seperti makanan, binatang kesayangan, balon yang seolah-olah ada di tangan dan diberikan kepada anak, tentu saja diberikan kepada anak-anak yang sudah akrab dengan kita, seringkali teknik ini menimbulkan kelucuan tersendiri.
3. Teknik membuka Cerita ”Kesan pertama begitu menggoda selanjutnya ….terserah anda”, Kalimat yang mengingatkan kita pada salah satu produk yang diiklankan. Hal ini mengingatkan pula betapa pentingnya membuka suatu cerita dengan sesuatu cara yang menggugah. Mengapa harus menggugah minat? Karena membuka cerita merupakan saat yang sangat menentukan, maka membutuhkan teknik yang memiliki unsur penarik perhatian yang kuat, diantaranya dapat dilakukan dengan:
a. Pernyataan kesiapan : “Anak-anak, hari ini, Ibu telah siapkan sebuah cerita yang sangat menarik…” dan seterusnya.
b. Potongan cerita: “Pernahkah kalian mendengar, kisah tentang seorang anak yang terjebak di tengah banjir?, kemudian terdampar di tepi pantai…?”
c. Sinopsis (ringkasan cerita), layaknya iklan sinetron “Cerita bu Guru hari ini adalah cerita tentang “seorang anak kecil pemberani, yang bertempur melawan raja gagah perkasa perkasa ditengah perang yang besar” (kisah nabi Daud) mari kita dengarkan bersama-sama !
d. Munculkan Tokoh dan Visualisasi “ dalam cerita kali ini, ada 4 orang tokoh penting…yang pertama adalah seorang anak yang jago main karate, ia tak takut dengan siapapun…namanya Adiba, yang kedua adalah seorang ketua gerombolan penjahat yang bernama Somad, badannya tinggi besar dan bila tertawa..iiih mengerikan karena sangat keras”…HA. HA..HA..HA..HA”, Somad memiliki golok yang sangat besar, yang ketiga seorang guru yang bernama Umar, wajahnya cerah dan menyenangkan…dan seterusnya.
e. Pijakan (setting) tempat “Di sebuah desa yang makmur…”, “Di pinggir pantai..” “Di tengah Hutan…” “Ada sebuah kerajaan yang bernama ..” “Di sebuah Pesantren…” dan lain-lain.
f. Pijakan (setting) waktu, “Jaman dahulu kala…” “Jaman pemerintahan raja mataram …” ”Tahun 2045 terjadi sebuah tabrakan komet…” “Pada suatu malam…” “Suatu hari…” dan lain-lain.
g. Ekspresi emosi: Adegan orang marah, menangis, gembira, berteriak-teriak dan lain-lain.
h. Musik & Nyanyian “Di sebuah negeri angkara murka, dimulai cerita…(kalimat ini dinyanyikan), atau ambillah sebuah lagu yang popular, kemudian gantilah syairnya dengan kalimat pembuka sebuah cerita.
i. Suara tak Lazim atau ”Boom” ! : Pendidik dapat memulai cerita dengan memunculkan berbagai macam suara seperti; suara ledakan, suara aneka binatang, suara bedug, tembakan dan lain-lain.
4. Menutup Cerita dan Evaluasi dapat dilakulkan dengan:
a. Tanya jawab seputar nama tokoh dan perbuatan mereka yang harus dicontoh maupun ditinggalkan.
b. Doa khusus memohon terhindar dari memiliki kebiasaan buruk seperti tokoh yang jahat, dan agar diberi kemampuan untuk dapat meniru kebaikan tokoh yang baik.
c. Janji untuk berubah; Menyatakan ikrar untuk berubah menjadi lebih baik, contoh “Mulai hari ini, Aku tak akan malas lagi, aku anak rajin dan taat kepada guru!”
d. Nyanyian yang selaras dengan tema, baik berasal dari lagu nasional, popular maupun tradisional
e. Menggambar salah satu adegan dalam cerita. Setelah selesai mendengar cerita, teknik ini sangat baik untuk mengukur daya tangkap dan imajinasi anak.
5. Penanganan Keadaan Darurat Apabila saat bercerita terjadi keadaan yang mengganggu jalannya cerita, pendidik harus segera tanggap dan melakukan tindakan tertentu untuk mengembalikan keadaan, dari kondisi yang buruk kepada kondisi yang lebih baik (tertib). Adapun kasus-kasus yang paling sering terjadi adalah:
a. Anak menebak cerita. Penanganan: Ubah urutan cerita atau kreasikan alur cerita
b. Anak mencari perhatian. penanganan: sampaikan kepada anak tersebut bahwa kita dan teman-temannya terganggu, kemudian mintalah anak tersebut untuk tidak mengulanginya.
c. Anak mencari kekuasaan. Penanganan: Pendidik lebih mendekat secara fisik dan lebih sering melakukan kontak mata dengan hangat.
d. Anak gelisah. Penanganan: Pendidik lebih dekat secara fisik dan lebih sering melakukan kontak mata dengan hangat, kemudian mengalihkan perhatiannya kepada aktivitas bersama seperti tepuk tangan dan penyanyi yang mendukung penceritaan.
e. Anak menunjukkan ke tidak puasan. Penanganan: Pendidik membisikkan ke telinga anak tersebut dengan hangat ”Adik anak baik, Ibu makin sayang jika adik duduk lebih tenang”
f. Anak-anak kurang kompak. Pananganan: pendidik lebih variatif mengajak tepuk tangan maupun yel-yel.
g. Kurang taat pada aturan atau tata tertib. Penanganan: Pendidik mengulangi dengan sungguh-sungguh tata tertib kelas.
h. Anak protes minta ganti cerita. Penanganan: Katakanlah ”Hari ini ceritanya adalah ini, cerita yang engkau inginkan akan Ibu sampaikan nanti”.
i. Anak menangis. Penanganan: Mintalah orang tua atau pengasuh lainnya membawa keluar.
j. Anak berkelahi. Penanganan: Pisahkan posisi duduk mereka jangan terpancing untuk menyelesaikan masalahnya, namun tunggu setelah selesai cerita
k. Ada tamu. Penanganan: Berikan isyarat tangan kepada tamu agar menunggu, kemudian cerita diringkas untuk mempercepat penyelesaiannya Suasana cerita sangat ditentukan oleh ketrampilan bercerita pendidik dan hubungan emosional yang baik antara pendidik dengan anak-anak. Beberapa kasus di atas hanyalah sebagian contoh yang sering muncul saat seorang pendidik bercerita, jadi penanganannya bisa disesuaikan dengan situasi dan kondisi serta kreativitas pendidik.
6. Media dan Alat bercerita Berdasarkan cara penyajiannya, bercerita dapat disampaikan dengan alat peraga maupun tanpa alat peraga (dirrect story). Sedangkan bercerita dengan alat peraga tersebut dibedakan menjadi peraga langsung (membawa contoh langsung:kucing dsb) maupun peraga tidak langsung (boneka, gambar, wayang dsb). Agar bercerita lebih menarik dan tidak membosankan, pendidik disarankan untuk lebih variatif dalam bercerita, adakalanya mendongeng secara langsung, panggung boneka, papan flanel, slide, gambar seri, membacakan cerita dan sebagainya.sehingga kegiatan bercerita tidak menjemukan.
PENUTUP
Untuk dapat menguasai aspek-aspek keterampilan teknis dari penyajian cerita diatas, tentu membutuhkan persiapan yang matang. Selain itu, kemampuan dalam bercerita agar dapat memunculkan berbagai unsur diatas, dan tersaji secara padu, hanya dapat dikuasai dengan pengalaman dan latihan-latihan yang tekun. Bercerita memang salah satu bagian dari keterampilan mengajar. Sebagai sebuah keterampilan, penguasaannya tidak cukup hanya dengan memahami ilmunya secara teoritik saja. Yang lebih penting dari itu adalah keberanian dan ketekunan dalam mencobanya secara langsung. Itulah sebabnya, latihan-latihan tertentu yang rutin sangat dibutuhkan. Yang jelas, keterampilan teknis bercerita hanya dapat dikembangkan melalui latihan dan pengalaman praktek bercerita. Akhirnya….SELAMAT BERCERITA!

Selasa, 03 Mei 2016

SEKILAS TENTANG UJIAN NASIONAL

Sumber gambar: http://www.beritapns.com/2015/09/ujian-nasional-untuk-sdsmp-dan-sma.html

DUNIA pendidikan kita kembali dirundung duka. Hasil dari pengumuman ujian nasional benar-benar mengejutkan banyak pihak –terutama orangtua siswa, guru, kepala sekolah, dan siswa bersangkutan. Pasalnya, jumlah siswa yang tidak lulus meningkat drastis. 

Ujian nasional tingkat SMA (dan sederajat) 2010 terjun bebas mencapai 89,88% –kalau dibandingkan angka kelulusan ujian nasional 2009: 94,85%. Tak mustahil, jika dari 1.522.162 peserta, ada 154.079 peserta yang harus mengikuti UN ulang pada 10-14 Mei. Siapa yang patut disalahkan dalam kasus ini? Tentu ada sejumlah faktor yang melatarbelakangi keterpurukan angka kelulusan tersebut. Salah satunya adalah kopetensi guru. Memang, setiap orang bisa menjadi guru. Tetapi, tak bisa disangkal jika tidak semua orang mampu menjadi guru yang baik, mengobarkan semangat, memberi inspirasi, memancarkan energi, mencerahkan, sekaligus menanamkan pengaruh yang luar biasa sehingga bisa membekas sepanjang hidup di benak anak didik. Padahal guru yang mampu menginspirasi dan mencerahkan itulah yang saat ini dibutuhkan di negeri ini, karena guru semacam itu akan mengantarkan kesuksesan siswa di kelak kemudian hari dan membawa kemajuan bangsa.

Sumber: www.kreasipresentasi.blogspot.com